Sabtu, 10 April 2010

Inseminasi Buatan (IB)

A. Definisi Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan adalah pemasukan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia, jadi bukan secara alami (Toelihere,R.M, 1977).
Inseminasi buatan merupakan salah satu metode perkawinan secara buatan yang dilakukan sengaja oleh manusia dengan memasukkan semen kedalam organ kelamin ternak betina.
B. Prosedur Inseminasi Buatan
Prosedur inseminasi buatan hanyalah meliputi penampungan, penilaian, pengenceran dan preservasi semen dan penyampaiannya pada waktu dan ke tempat yang sesuai dalam organ reproduksi hewan betina, namun pada prakteknya prosedur inseminasi buatan tidak hanya meliputi deposisi atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin betina, tetapi juga seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi buatan pada hewan betina, bimbingan dan pentuluhan pada peternak (Toelihere,R.M, 1977).
C. Manfaat dan Kerugian Inseminasi Buatan
Manfaat Inseminasi Buatan (IB)
1. inseminasi buatan sangat mempertinggi penggunaan pejantan-pejantan unggul.
2. terutama bagi peternak-peternak kecil seperti umum ditemukan di indonesia, penggunaan inseminasi buatan sangat menghemat biaya disamping dapat menghindari bahaya dan menghemat tenaga pemelihara pejantan yang belum tentu merupakan pejantan terbaik untuk diternakkan. Biaya yang digunakan untuk memelihara pejantan dapat dipakai untuk membeli hewan betina lagi.
3. pejantan-pejantan yang dipakai dalam inseminasi buatan telah diseleksi secara teliti dan ilmiah dari hasil perkawinan betina-betina dengan pejantan unggul.
4. penularan penyakit dapat dicegah melalui inseminasi buatan dengan hanya menggunakan pejantan-pejantan yang bebas penyakit, menghindari kontak kelamin pada waktu perkawinan dan membubuhi antibiotika di dalam semen sebelum dipakai. Jadi inseminasi buatan merupakan cara terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit-penyakit veneris dan penyakit-penyakit menular khusus pada ternak seperti vibroelastis, trichomoniasis, brucellosis dan leptospirosis.
5. oleh karena hanya semen dengan fertilitas tinggi yang diberikan pada para peternak, maka calving interval, misalnya dapat diperpendek dan terjadi penurunan jumlah betina yang kawin berulang (repeat breeders).
Kerugian Inseminasi Buatan (IB)
1. pelaksanaan yang terlatih baik dan trampil diperlukan untuk mengawasi dan atau melaksanakan penampungan, penilaian, pengenceran, pembekuan dan pengangkutan semen dan inseminasi pada hewan betina untuk mencegah penyebaran penyakit-penyakit kelamin menular.
2. kemungkinan besar inseminasi buatan dapat merupakan alat penyebar abnormalitas genetik seperti pada sapi, ovari yang cystic, konformasi tubuh yang buruk, terutama pada kaki-kakinya dan kekurangan libido.
3. apabila persediaan pejantan unggul sangat terbatas, peternak tidak dapat memilih pejantan yang dikehendaki untuk mengikuti program peternakan yang diinginkannya.
4. inseminasi buatan tidak dapat digunakan dengan baik pada semua jenis hewan. (Toelihere,R.M, 1977).
C. Penampungan Semen
Berbagai metode penampungan semen untuk inseminasi buatan telah dikembangkan. Metode pengumpulan semen dengan menyerapnya dari vagina sesudah perkawinan alam jarang dipakai karena semen tersebut bercampur dengan sekresi dan bakteri dari saluran kelamin hewan betina.
1. Metode pengurutan (masase)
Penampungan semen menggunakan metode pengurutan atau masase mulai diperkenalkan oleh Case pada tahun 1925, diikiuti oleh Miller dan Evans pada tahun 1934. teknik yang dilakukan mereka ialah memasukkan tangan 18 – 25 cm kedalam rektum dan mengurut kelenjar-kelenjar vasiculares dan ampulae dari depan ke belakang. Pengurutan selama dua menit akan menghasilkan semen.. Metode ini jarang dilakukan karena suatu ketrampilan khusus dan pengalaman diperlukan untuk mengurut ampulae melalui rektum. Adapun kelemahan dari metode ini yaitu adanya beberapa pejantan yang kurang atau tidak memberi respon serta semen yang tertampung umumnya tidak bersih dan mengandung lebih banyak kuman dibandingkan dengan semen yang diperoleh dari metode lain hal ini disebabkan karena semen yang menetes melalui preputium dan rambut-rambut preputium, oleh karena itu preputium dan daerah sekitarnya harus dicuci dan disepul dengan larutan NaCl atau air hangat, kemudian dikeringkan dengan dengan handuk bersih. Kemudian sewaktu penampungan, pejantan tidak boleh diperlakukan secara kasar dan harus dibiarkan rileks, pelaksana memasukkan tangannya yang sudah diberi pelicin kedalam rectum pejantan dan membersihkannya dari feses.
Apabila masase dilakukan secara rutin oleh seorang pelaksana yang sama kebanyakan sapi jantan akan menjadi terbiasa terhadap prosedur ini dalam waktu 3 sampai 4 minggu dan menghasilkan contoh semen yang baik pada setiap penampungan.
Indikasi pemakaian metode masase ialah apabila sapi pejantan unggul tetapi impoten tidak mau atau tidak sanggup berkopulasi secara alamai atau tidak dalap melanyani vagina buatan. Akan tetapi semen yang diperoleh denga metode ini mempunyai kualitas rendah karena cenderung berkontaminasi dengan urine dan jasad-jasad renik pada preputium.
2. Metode Elektroejakulasi
Dengan mengalirkan rangsangan elektromaknetik secara retmik selama 5 - 10 detik (30 volt, 50 cycle, arus bolak-balik) melalui elektroda-elektroda tersebut, terjadilah ejakulasi dan semen ditampung ke dalam sebuah tabung gelas. Ternak tersebut tidak memperlihatkan pengaruh-pengaruh buruk dalam pemakaian metoda ini. Aplikasi aliran listrik memnyebabkan kontraksi tetanik semua urat daging tubuh dan ketidak sanggupan motorik kaki-kaki belakang tetapi pengaruh ini hanya bersifat temporer.
Volume dan konsentrasi semen yang diperoleh dengan buatan tetapi pada umumnya konsentrasi sel-sel sperma yang agak rendah pada metode tersebut terdahulu (Austin et.al., 1961). Persentase konsentrasi yang diporoleh dengan ejakulat dari elektroejakulasi dan vagina buatan adalah sama.
Elektroejakulator merupakan suatu alat pembantu yang berharga di samping vagina buatan pada stasion-stasion inseminasi buatan dalam menampung semen secara rutin pada sapi-sapi jantan yang bermutu tinggi tetapi pincang, lumpuh, cedera, lamban atau impoten, dan tidak sanggup memiliki pemancing.
3. Metode Vagina Buatan
Penggunaan vagina buatan adalah suatu metode yang dipakai secara umum dan meluas untuk penampungan semen pejantan sapi perah atau sapi potong pada pusat-pusat inseminasi buatan. Vagina buatan dapat mengatasi kerugian-kerugian yang diperoleh dengan pengurutan dan elektroejakulator atau koleksi semen langsung dari dalam vagina hewan betina. Vagina buatan mudah dibuat dengan sederhana untuk dipakai. Dengan menggunakan vagina buatan dapat diperoleh semen yang bersih, maksimal dan spontan ke luar.
Model-model pertama vagina buatan disempurnakan oleh sarjana-sarjana Rusia dan terdiri dari satu silinder karet kaku, atau materi lain, kurang lebih 60 cm panjang dan diameter bagian dalam 5,5 cm. Di dalam silinder tersebut terdapat satu selongsong karet tipis, ujung-ujungnya dikuakkan dan menjepit ujung-ujung luar silinder kaku tebal, membentuk suatu kantong yang tidak ditembusi air. Pada salah satu ujung selinder vagina buatan ditautkan satu tabung semen. Sewaktu pemakaiannya kantong antara silinder tebal dan selongsong tipis dimasukkan air hangat beberapa derajat di atas suhu tubuh. Sewaktu penampungan semen suhu didalam vagina buatan harus berkisar antara 40oC dan 53oC (Mac Millan et al.,1966). Untuk mencapain suhu tersebut sebaiknya dipakai vagina buatan dapat ditentukan di tempat penampungan memakai termometer steril yang berkapasitas sampai 100oC. Apabila suhu vagina buatan terlampau rendah pejantan tidak mau berejakulasi kalau terlalu panas akan membunuh spermatozoa atau menyakiti pejantan dan menyebabkan takut atau enggan melayani vagina buatan.
D. Penilaian Semen
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam perlakuan terhadap semen adalah :
1. vagina buatan atau tabung penampung pada elektroejakulator harus bersih dan bebas dari kontaminasi yang dapat merusak spermatozoa seperti alkohol, pelicin yang berlebihan, talk pada selongsong karet yang baru dan anti septik atau bahan kimia apapun.
2. pada waktu penampungan kotoran atau sel-sel yang tanggal termasuk smegma preputium dan sekresi yang berlebihan harus tidak memasuki vagina buatan. Air dan urine merusak spermatozoa dengan menyebabkan tekanan osmotik yang berbeda.
3. jumlah darah dan serum yang berlebihan dapat berpengaruh buruk terhadap spermatozoa.
4. pemanasan atau pendinginan yang terlampau cepat akan mematikan spermatozoa.
5. penggoyangan atau pengocokan yang terlapau keras dapat merusak spermatozoa.
6. penyinaran langsung dari matahari harus dihindari.
Pemeriksaan Umum
a. Volume
Volume semen yang tertampung dapat langsung terbaca pada tabung penampungan yang berskala. Volume semen sapi bervariasi antara 1,0 samapi 15,0 ml. volume rendah tidak merugikan tetapi bila disertai dengan konsentrasi sperma yang rendah akan membatasi jumlah spermatozoa yang tersedia. Suatu peninggian atau penurunan volume semen yang diejakulasikan umumnya tidak berhubungan dengan fertilitas atau sterilitas pejantan kecuali kalau tidak terjadi ejakulasi.
b. Warna
Semen sapi normal berwarna seperti susu atau krem keputih-putihan dan keruh. Derajat kekeruhannya tergantung pada konsentrasi sperma. Kira-kira 10% sapi-sapi jantan menghasilkan semen yang normal berwarna kuning-kekuningan. Warna ini disebabkan oleh pigmen riboflavin yang dibawakan oleh satu gene autosomal resesif dan tidak mempunyai pengaruh terhadap fertilitas.
c. Konsistensi
Konsistensi atau derajat kekentalan dapat diperikasa dengan menggoyangkan tabung berisi semen secara perlahan-lahan. Semen sapi dan domba mempunyai konsistensi kental berwarna krem sedangkan semen kuda dan babi cukup encer berwarna terang sampai kelabu. Pada sapi, semen dengan konsistensi krem mempunyai konsistensi 100 juta – 2000 juta atau lebih sel per ml. Suatu konsistensi seperti susu encer memiliki konsistensi 500 – 600 juta sel per ml, semen yang caiar berawan atau hanya sedikit kekeruhan konsentrasi sekitar 100 juta sel per ml dan yang jernih seperti air kurang dari 50 juta sel per ml.
d. Penentuan dan Penilaian Mortalitas
Mortalitas atau daya gerak spermatozoa yang dinilai segera sesudah penampungan semen umumnya digunakan sebagai ukuran kesanggupan membuahi agar ejakulasi tidak mengalami ” cold shock” atau penurunan suhu secara mendadak yang sangat mempengaruhi motalitas sperma. Untuk memperoleh hasil yang lebih tepat sebaiknya semen diperiksa pada suhu antara 37o – 40oC dengan menempatkan gelas objek di atas suatu meja pemanas atau menggunakan mikroskop yang dipanaskan secara elektrik. Apabila tersedia, semen dapat dicampur dahulu dengan larutan ringer atau larutan 2,9% sitras natricus yang hangat agar dapat lebih muda mengamati spermatozoa secara individual dan dapat menentukan suatu perkiraan persentase sperma motil.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda